Menapaki Jejak Majapahit di Kajar, Lasem

REMBANGBANGKIT.COM, LASEM- Sejarah Kerajaan Majapahit pada era 1351 Masehi mewariskan empat peninggalan berupa batu tapak kaki Raja Majapahit yang dikenal dengan watu tapak, goa tinatah, kursi kajar, dan lingga kajar.
Peninggalan tersebut tersebar di sejumlah tempat di kawasan Gunung Kajar, Pegunungan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Namun, menurut masyarakat sejarawan Indonesia (MSI) kabupaten setempat, tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa di Lasem ada peninggalan Majapahit. Pemerintah kabupaten itu pun selama ini terkesan kurang peduli dengan aset sejarah dan wisata itu sehingga benda-benda di situs tersebut tidak terawat.
“Buktinya, lantaran tidak terawat, goresan huruf palawa di lingga kajar itu sulit dibaca lagi. Begitu pula peninggalan-peninggalan Majapahit lain, misalnya kajar kursi, juga tidak terperhatikan. Batu itu tidak lagi menyerupai kursi karena telah hancur sebagian,” kata Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Kabupaten Rembang, Edy Winarno.
Situs Majapahit Lasem, demikian tempat peninggalan-peninggalan itu disebut, terletak kawasan Gunung Kajar, Desa Kajar, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Dari kota tua Lasem atau jalan pantai utara Lasem, kawasan yang terkenal dengan sumber air yang melimpah itu berjarak sekitar tujuh kilometer ke arah selatan.
Masyarakat sejarawan Indonesia kabupaten setempat, kata Edy, sempat memperkenalkan studi sejarah lokal berbasis realitas dan wisata kepada seratusan guru sejarah atau pengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai upaya melestarikan Situs Majapahit tersebut belum lama ini.
“Kami juga mendesak dinas pendidikan setempat mengajarkan sejarah lokal di setiap sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah,” katanya.
Menurut Edy, Situs Majapahit di kawasan Gunung Kajar, Pegunungan Lasem layak menjadi ajang studi karena kisah di balik sejumlah peninggalan itu tidak terlepas dari sejarah Kadipaten Lasem pada masa Kerajaan Majapahit yang terkenal kala itu.
Ia membeberkan, Kadipaten Lasem muncul setelah Tribuwana Wijayatunggadewi membentuk Dewan Pertimbangan Agung atau Bathara Sapta Prabu pada 1351.
Salah satu anggota Dewan Pertimbangan Agung itu adalah Dyah Duhitendu Dewi, adik kandung Hayam Wuruk. Setelah menikah dengan anggota Dewan Pertimbangan Agung yang lain, Rajasawardana, Dewi Indu tinggal dan menjadi penguasa di Lasem dengan gelar Putri Indu Dewi Purnamawulan, yang kemudian dikenal sebagai Bhre Lasem.

Kitab Nagarakertagama

Dalam Kitab Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya karya Slamet Mulyana, tutur Edy, kisah Dewi Indu dan Rajasawardana tercatat diterjemahan Negarakertagama Pupuh V dan VI.
Dalam Pupuh V Ayat 1 disebutkan, “Adinda Baginda raja di Wilwatikta: Puteri jelita, bersemayam di Lasem Puteri jelita Daha, cantik ternama Indudewi Puteri Wijayarajasa”.
Begitu pula dalam Pupuh VI Ayat 1, “Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala”.
Dalam pupuh yang sama pada Ayat 3 disebutkan, “Bhre Lasem menurunkan puteri jelita Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra”.
Sejarawan Lasem, Slamet Widjaja, mengatakan, Lasem, khususnya Desa Kajar, merupakan salah satu daerah terpenting Kerajaan Majapahit. Desa Kajar merupakan tempat memberikan pengetahuan serta ajaran agama dan moral kepada para pejabat, panglima, dan prajurit Kerajaan Majapahit.
“Kajar merupakan kependekan dari ’ka’ yang berarti kaweruh (pengetahuan) dan ’jar’ yang berarti ajaran,” katanya.
Menurut dia, pada 1354 Raja Majapahit Hayam Wuruk berkunjung ke Lasem dan Desa Kajar.
“Untuk mengenang kunjungan itu sekaligus sebagai prasasti tanda daerah kekuasaan Majapahit, Bhre Lasem membuat ukiran telapak kaki Hayam Wuruk di sebuah batu andesit di lereng Gunung Kajar,” kata dia.
Hingga kini, ukiran telapak kaki itu masih ada dan warga Desa Kajar meyakini ukiran itu sebagai bekas telapak kaki Hayam Wuruk. Warga kerap menyebut batu telapak kaki itu sebagai watu tapak.
Slamet Widjaja juga menuturkan peninggalan-peninggalan lain Kerajaan Majapahit di Lasem, seperti goa tinatah, kursi kajar, dan lingga kajar, juga menunjukkan peran penting Desa Kajar selama Majapahit berkuasa. Goa tinatah merupakan dua goa yang terletak di Gunung Kajar.
Goa pertama merupakan tempat menyepi pejabat atau panglima Majapahit. Goa itu hanya muat untuk satu orang. Goa kedua merupakan tempat para prajurit yang dibawa pejabat atau panglima Majapahit itu berjaga-jaga. Goa kedua itu dapat memuat sekitar 15 orang, katanya menguraikan.
“Setelah menyepi selama beberapa waktu di goa tinatah, pejabat atau panglima Majapahit itu disucikan dengan air Kajar. Dia duduk di sebongkah batu yang mirip kursi. Warga pun menyebut kursi itu sebagai kursi kajar,” katanya.
Selain itu, untuk menghargai Desa Kajar sebagai tempat yang membawa kesuburan bagi daerah lain karena banyak sumber mata air, Bhre Lasem juga membuat lingga berhuruf palawa di dekat lingga pada zaman batu dan salah satu mata air Kajar.
“Namun, lingga tersebut tak terawat, sehingga huruf pallawa pada lingga tersebut tidak jelas lagi terbaca,” katanya.
Ketua Masyarakat Sejawaran Indonesia Kabupaten Rembang Edy Winarno juga mengatakan, pihaknya sudah mendokumentasikan Situs Majapahit tersebut. Dokumentasi itu merupakan salah satu referensi jika sejumlah pihak membutuhkannya.
“Kami mengusulkan kepada pemerintah kabupaten (pemkab) setempat untuk menjadikan Situs Majapahit di Lasem sebagai laboratorium sejarah. Situs itu dapat pula menjadi tempat wisata penyusuran jejak-jejak peninggalan Majapahit di Lasem,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang Noor Effendi, mengatakan, banyak masyarakat tidak mengetahui secara detail kisah sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit di kawasan Gunung Kajar, Pegunungan Lasem.
“Meski demikian, kami yakin sebagian kecil masyarakat masih hafal nama dan letak lokasi peninggalan-peninggalan itu,” katanya.
Ia pun berjanji mengomunikasikan usulan masyarakat sejarawan Indonesia kabupaten setempat itu kepada pemerintah kabupaten setempat.
“Usulan menjadikan Situs Majapahit di Lasem menjadi laboratorium sejarah jelas merupakan gagasan jangka panjang. Namun, dalam waktu dekat, kami akan mengemas sebuah paket wisata sejarah yang tidak hanya melibatkan Situs Majaphit di Lasem, tetapi juga Situs Megalitikum Terjan, dan Situs Plawangan,” kata dia.
http://saint-history.blogspot.com/2011/09/situs-majapahit-lasem.html

One thought on “Menapaki Jejak Majapahit di Kajar, Lasem

  • September 26, 2013 at 8:58 am
    Permalink

    Ternyata Lasem atau yang disebut tiongkok kecil mempunyai sejarah tentang keberadaan kejaan maja pahit pada masa lampau

Comments are closed.